TUBERKULOSIS PADA ANAK DENGAN INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS/AIDS

SARI  PUSTAKA                                   Kepada Yth :

                                                                     Rencana diajukan tanggal :                         

 

TUBERKULOSIS PADA ANAK DENGAN INFEKSI

HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS/AIDS

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Dwi Purnomo Sidhi

 

Pembimbing:

Dr.Dwi Wastoro Dadiyanto, Sp.A(K)

 

PPDS - I Bagian Ilmu Kesehatan Anak

FK Undip/RS Dr. Kariadi Semarang

2008


D A F T A R   I S I

 

Halaman Judul ..........................................................................................................       i

Daftar Isi ..................................................................................................................       ii

BAB I        :   Pendahuluan.........................................................................................      1

BAB II       :   Definisi dan Estimasi Tuberkulosis Anak dengan Infeksi HIV................. 3

BAB III      :  Kematian Tuberkulosis di Era HIV........................................................      5

BAB IV     :   Hubungan Tuberkulosis dengan HIV.....................................................      7

BAB V       :  Data Pasien TB-HIVdi RSDK tahun 2005-2007.....................................9

BAB VI     :  Aspek Imunologi dan Diagnosis TB dengan HIV................................. 12

BAB VII    :   Pengobatan Infeksi Tuberkulosis Anak dengan HIV..............................    22

BAB VIII   :   Pencegahan dan Deteksi Dini pada Infeksi TB-HIV..............................    27

BAB IX     :   Strategi Nasional Penanggulangan HIV.................................................    30

BAB X       :   Ringkasan ...........................................................................................    34

Daftar Pustaka...........................................................................................................    36

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

            Penyakit tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu masalah utama di Indonesia. Survei kesehatan tahun 2001 menunjukkan bahwa TB adalah salah satu penyakit sebagai penyebab utama kematian di Indonesia. Sebagian besar pasien TB paru maupun ekstrapulmonal berasal dari kelompok masyarakat usia produktif dan dari lapisan sosial ekonomi rendah. 1

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi HIV baru dikenal di dunia sejak tahun 1981 di Amerika Serikat. Penyakit ini sudah menyebar ke seluruh dunia dan oleh World Health Organization (WHO) dianggap sebagai penyakit pandemi yang menyerang semua negara di dunia.1 Tuberkulosis paru di Indonesia merupakan infeksi oportunistik yang paling sering terjadi pada penderita HIV.1,2,3,4 Infeksi HIV merupakan faktor risiko untuk berkembangnya TB melalui mekanisme berupa reaktivasi infeksi laten, progresivitas yang cepat pada infeksi primer atau reinfeksi dengan Mycobacterium Tuberculosis (M. Tuberculosis). Pada seseorang yang terinfeksi kuman tuberkulosis juga dengan mudah menjadi HIV dibanding mereka yang seronegatif.5,6

            Dengan rendahnya reaksi imunologik maka akan mempercepat terjadinya HIV. Kombinasi TB dengan HIV sangat berbahaya dan menjadi penyebab kematikan terbanyak.3 Di daerah dengan prevalensi TB yang masih tinggi, terbukti kenaikan jumlah pasien TB meningkat secara signifikan.7 Khususnya negara kita selain angka kematian TB sekitar 88.000/tahun dan insidennya 245/100.000 juga sebagai penyumbang kasus TB terbesar ketiga di dunia (5,8%), setelah India (21,1%) dan China (14,3%).3

            Data terakhir tuberkulosis di dunia termasuk di Asia Tenggara, bahwa negara kita telah disampaikan dalam peringatan TB Day 2004. Dengan ditemukannya berbagai Obat Anti Tuberkulosis (OAT) antara tahun 1940-an sampai 1970-an maka angka Tuberkulosis di berbagai negara terutama Eropa dan Amerika menurun dari waktu ke waktu. Di Belanda memperkirakan tuberkulosis akan terbasmi pada tahun 2025 dan Jepang memperkirakan akan membasmi penyakit ini di tahun 2058.9

Epidemiologi

            Perlu diketahui bahwa infeksi Mikobakterium tuberkulosis  terjadi pada sepertiga penduduk dunia atau sekitar 2 juta orang dengan 8 juta kasus baru dan 2-3 juta kematian setiap tahun.10 Antara tahun 1990-2005, insiden TB meningkat dengan percepatan sekitar 7% pada negara-negara dengan prevalensi HIV yang tinggi dan 1,3% pada negara-negara dengan prevalensi HIV yang rendah. 10

Penularan HIV dapat terjadi melalui darah, cairan tubuh lain, hubungan seksual, infeksi melalui jarum suntik dan menyusui. Pada saat ini cara penularan terbanyak adalah dari heteroseksual (>75%). Kira-kira 5-10% infeksi baru HIV menimpa anak-anak dan lebih dari 90% terjadi saat masih janin dalam kandungan, saat melahirkan / menyusui. 11


BAB II

DEFINISI & ESTIMASI TUBERKULOSIS PADA INFEKSI  HIV/AIDS

 

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit bakterial kronis yang disebabkan oleh infeksi Mikobakterium Tuberkulosis  dan penting untuk dilaporkan bahwa M. Tuberkulosis adalah merupakan anggota kompleks yang terdapat sekitar 95% pada manusia.12

Tuberkulosis paru, merupakan masalah yang timbul tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Tuberkulosis ini tetap merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian. Terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi epidemiologi Tuberkulosis antara lain yaitu dengan perubahan strategi pengendalian, infeksi HIV dan pertumbuhan populasi yang cepat.13

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat melemahkan kemampuan tubuh kita untuk melawan segala penyakit yang datang. Bentuk penyakit klinis yang paling berat dikenal dengan sindroma defisiensi imun atau Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) disebabkan oleh HIV-1, sedang untuk HIV-2 menyebabkan penyakit yang hampir sama tetapi agak kurang agresif dan terbatas di Afrika Barat. Terutama di Amerika, Jepang, Australia, Karibian dan Eropa. Penyakit ini mencerminkan defisiensi imunitas seluler akibat infeksi retrovirus HIV dengan gejala klinik berupa infeksi oportunistik baik oleh virus, bakteri, jamur maupun parasit.4,14

 

Estimasi Tuberkulosis dan dampak dari HIV/AIDS

            Diperkirakan terdapat 8,3 juta kasus baru Tuberkulosis pada 2000, 3,4 juta diantaranya dengan sputum basil tahan asam (BTA) positif setara dengan 61 per 100.000 penduduk sebagian besar (5,4 juta) berusia 15-45 tahun, kasus terdapat didapatkan di Wilayah Asia-Tenggara 30 juta, separuh dari kasus baru 4,4 juta terdapat  di 5 negara semuanya di Asia, namun insidens tertinggi sebagian besar di Afrika, yang pasti beban global terus meningkat dengan angka peningkatan 1,8% pertahun.15

            Pada akhir tahun 2002 terdapat total 42 juta orang hidup dengan HIV terbanyak di Afrika 2,4 juta (70 juta) dan 7,2 juta (17,1%) di Asia Tenggara, serta bertambah dengan kecepatan 13.600 kasus infeksi baru setiap hari, sebagian besar (90%) di negara miskin dan menengah dengan angka kematian mencapai 3,1 juta pada 2002.16

            Indonesia sudah mulai memperlihatkan adanya kasus HIV. Laporan Menteri Kesehatan pada tahun 1997 ada 178 kasus, pada tahun 2000 ada 345 kasus, tahun 2001 menjadi 2.556 kasus HIV dan 1.058 kasus AIDS. Pada tahun 2003 4 daerah yang didapatkan infeksi HIV/AIDS yang disertai infeksi TB adalah DKI Jakarta (10%), Papua, Bali (24%) dan Jawa Timur (32%).1,15

            Tuberkulosis, walaupun dinyatakan sebagai penyakit yang dapat disembuhkan, kenyataan merupakan penyakit penyebab yang paling banyak berkaitan dengan HIV. Variasi besaran insidens TB berkaitan erat dengan prevalensi infeksi HIV. 11% dari kasus baru Tuberkulosis terjadi pada orang-orang yang terinfeksi HIV dan 9% dari kasus baru lainnya sebagai akibat langsung dari HIV. Prevalensi infeksi HIV pada kasus baru Tuberkulosis bervariasi luas diberbagai wilayah dunia antara 1-60%. Di Indonesia prevalensi ini masih rendah (1%). Penderita Tuberkulosis menular (dengan sputum BTA positif) yang juga mengidap HIV, merupakan penularan kuman Tuberkulosis tertinggi.17

 

 

 

 

 


BAB III

KEMATIAN TUBERKULOSIS di ERA HIV/AIDS

 

            Di negara maju, tuberkulosis merupakan infeksi oportunistik yang paling sering ditemukan pada penderita dengan reaksi serologi HIV positif. Apabila seseorang dengan seropositif HIV terinfeksi kuman Tuberkulosis, oleh karena kekebalannya yang sangat rendah besar sekali kemungkinan akan langsung menderita Tuberkulosis. Hal ini sangat berbeda dengan orang normal yang sebagian besar tidak akan sakit Tuberkulosis oleh karena dihambat oleh reaksi imunitas tubuhnya.7 Seseorang dengan HIV (+) dan terinfeksi oleh Tuberkulosis, tampaknya 30 kali lebih mudah menderita Tuberkulosis, dibandingkan dengan mereka yang HIV (-). Sejak tahun 1980 prevalensi Tuberkulosis meningkat dengan pesat di Amerika Serikat oleh karena kasus Multi Drugs Resistance (MDR) yang berhubungan dengan infeksi HIV.18 Kenaikkan jumlah penderita TB meningkat akibat meningkatnya penderita HIV, di negara negara maju maupun di negara sedang berkembang terutama di Afrika. Di Amerika angka prevalensi Tuberkulosis diantara penderita AIDS adalah 10% pada kelompok bukan Haiti, angka ini meningkat menjadi 60% pada kelompok Haiti.6

Di Indonesia, kasus pertama AIDS dilaporkan secara resmi tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Pada periode itu masih sangat jarang dijumpai penderita HIV, kasus kasus yang ditemukan seat itu sebagian besar dijumpai pada kelompok homoseksual.6 Sejak pertengahan 1999 mulai terlihat peningkatan yang sangat tajam yang terutama disebabkan akibat penularan melalui narkotika atau Injecting Drug Users( IUDs).18,19 Sampai dengan September 2003 tercatat 3.924 kasus HIV yang telah dilaporkan.6 Jumlah itu tentu masih sangat jauh dari jumlah sebenarnya. Departeman Kesehatan RI pada tahun 2002 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi HIV berkisar antara 90.000 sampai 130.000 orang.1,6

Pengaruh Tuberkulosis terhadap perburukan jalannya penyakit AIDS telah lama dikenal, khususnya karena tingginya angka kematian mereka yang terinfeksi dual -Tuberkulosis dan HIV- dimana sebab kematiannya bukanlah Tuberkulosis itu sendiri, akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa HIV dan Tuberkulosis keduanya mematikan, masing-masing memperburuk keadaan, Tuberkulosis merupakan kasus utama penyebab kematian pada HIV (+) dibanding penyakit oportunistik lainnya, selain itu Tuberkulosis berperan pada 40% kematian penderita AIDS Afrika.3,4,20

            Dari 1.84 juta kematian karena Tuberkulosis pada tahun 2000, sebanyak 226.000 (13 %) berkaitan dengan HIV  dari seluruh kematian Tuberkulosis. HIV sebagai penyebab kematian pada penderita TB diperkirakan melampaui 50% di negara sedang berkembang. Sebaliknya TB juga merupakan penyebab kematian pada pengidap HIV sebesar 23 juta (11 %).16

            Pada kelompok kerja TB-HIV Tingkat Pusat Depkes RI 2003, diketahui   bahwa apabila seseorang terinfeksi kuman TB maka ia dengan mudah terinfeksi HIV sebanyak 50% sedang pada kasus TB yang   terinfeksi HIV negatif hanya 5-10%.1

 

 


BAB IV

HUBUNGAN INFEKSI TUBERKULOSIS TERHADAP  HIV/AIDS

 

            World Health Organization (WHO), infeksi HIV terbukti merupakan faktor yang memudahkan terjadinya proses “Sakit” pada orang yang telah terinfeksi TB (oleh Mycobacterium tuberculosis), meningkatkan risiko TB aktif dan kekambuhan, menyulitkan diagnosis serta memperburuk stigma. Tuberkulosis juga meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada pasien pengidap HIV. Di negara sedang berkembang dengan prevalensi Tuberkulosis  masih tinggi, diketahui bahwa sebagai infeksi oportunistik yang sering ditemukan pada pasien dengan seropositif HIV (Indonesia, 30-50%). Pasien dengan uji tuberkulin (+) dan HIV (-) risiko terkena penyakit Tuberkulosis kira-kira 5-10%, sedang pasien dengan HIV (+) meningkat menjadi 60%.4,9

Infeksi HIV terutama memiliki efek yang luar biasa pada imunitas yang diperantarai sel dan hal ini meningkatkan risiko penyakit-penyakit yang disebabkan kurnan patogen yang normalnya ditahan oleh mekanisme pertahanan ini. Jadi masuk akal bila berasumsi bahwa orang yang terinfeksi HIV merupakan predisposisi penyakit Tuberkulosis, terutama jika mereka sebelumnya pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis (MTB).21,22

Seseorang yang terinfeksi oleh MTB sebelumnya mempunyai risiko tinggi menjadi penyakit Tuberkulosis bila ia juga terinfeksi HIV. Di negara maju seseorang yang HIV-seropositif yang berasal dari negara endemik Tuberkulosis, pengguna obat terlarang intravena, tinggal di daerah kumuh, dan kontak erat dengan penderita ini akan memudahkan terjadi penyakit Tuberkulosis.21,22

Interaksi yang erat antara infeksi MTB pada penderita HIV menjadi masalah serius pada program pemberantasan terutama di negara-negara dengan prevalensi HIV tinggi seperti Afrika sub Sahara, Karibia 10 dan beberapa kota besar di AS. 23,24

Di negara yang telah berkembang, Tuberkulosis diketahui merupakan infeksi oportunistik yang paling sering ditemukan pada pasien dengan reaksi seropositif. Apabila seseorang dengan seropositif tertular kuman ini maka karena kekebalannya rendah, besar sekali kemungkinannya akan langsung menderita Tuberkulosis. Hal ini berbeda sekali dengan orang normal atau mereka dengan seronegatif, karena kuman ini yang masuk akan dihambat oleh reaksi imunitas yang ada dalam tubuhnya. Disamping itu penyakit Tuberkulosis pada mereka dengan seropositif cepat berkembang kearah perburukan.6

Pada pasien seropositif HIV, dengan daya tahan tubuh atau imunitas yang sangat rendah akan mudah terjadi infeksi yang sangat rendah akan mudah terjadi infeksi oportunistik lain selain oleh M tuberkulosis. Di Asia Tenggara Tuberkulosis menduduki peringkat tertinggi.3 Meningitis oleh karena kriptokokus juga dijumpai di Thailand dengan angka sebesar di negara-negara barat. Akan tetapi kejadian Sarkoma kaposi sangat jarang di Asia Tenggara.

Hubungan HIV dengan TB setidaknya ada tiga hal, HIV akan mempercepat proses perjalanan TB, HIV merupakan faktor risiko paling kuat untuk reaktivasi Tuberkulosis yang laten dan HIV meningkatkan kemungkinan kekambuhan pada penderita ini yang telah selesai diobati , hubungan antara HIV dengan epidemi TB adalah sebagai berikut:3,4,5

1.      Memacu progresifitas TB aktif pada orang yang terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis laten.

2.      Meningkatnya kekambuhan pada pasien TB.

3.      Peningkatan kasus TB pada orang yang terinfeksi HIV yang memiliki risiko transmisi TB  pada masyarakat umumnya.

Infeksi oportunistik di Indonesia telah dilaporkan sampai 1 Maret 2008 sebagai berikut :3

l      TBC : 6367 (54%)

l      Diare kronis : 3834

l      Kandidiasis oro-faringeal : 3769

l      Dermatitis generalisata : 1008

l      Limfadenopati generalisata : 534


BAB V

DATA PASIEN TB-HIV di RSDK Tahun 2005-2007

 

Tabel 1. Data Pasien Rawat Jalan TB & HIV di RSDK tahun 2005-2007

Tahun

TB Paru

HIV

Total

Laki-laki

Perempuan

Laki-laki

Perempuan

2005

Dewasa

Anak-anak

 

49

32

 

36

18

 

127

-

 

10

-

 

222

50

2006

Dewasa

Anak-anak

 

115

73

 

79

45

 

228

3

 

69

10

 

491

131

2007

Dewasa

Anak-anak

 

163

63

 

109

40

 

519

12

 

268

12

 

1059

127

Jumlah

Dewasa

Anak-anak

 

327

168

 

224

103

 

874

15

 

347

22

 

1772

308

 

 

Tabel 2.Data Pasien Rawat Inap TB & HIV di RSDK tahun 2005-2007

Tahun

TB

HIV

Total

2005

Dewasa

Anak-anak

 

110

10

 

22

-

 

132

10

2006

Dewasa

Anak-anak

 

140

12

 

69

3

 

209

15

2007

Dewasa

Anak-anak

 

105

5

 

89

1

 

194

6

Jumlah

Dewasa

Anak-anak

 

355

27

 

180

4

 

535

31

 

 

Tabel 3.

Data Jumlah Pasien Rawat Inap TB dengan HIV di RSDK tahun 2005-2007

Tahun

TB dengan HIV

Total

Laki-laki

Perempuan

2005

Anak-anak

2

0

2

2006

Anak-anak

3

2

5

2007

Anak-anak

3

3

6

Jumlah

Anak-anak

8

5

13

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

ASPEK IMUNOLOGIS dan DIAGNOSIS TB dan HIV

 

Aspek Imunologi

            Tuberkulosis merupakan salah satu infeksi oportunis yang utama yang ditemui pada penderia infeksi HIV/AIDS, terutama di Indonesia, dan merupakan penyebab 30% kematian pada populasi AIDS. Hasil survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan di beberapa propinsi menunjukkan angka ko-infeksi TB-HIV yang bervariasi, yaitu 24% di Bali, 32% di Jawa Timur, dan 10% di Jakarta.10

Ko-infeksi TB dengan HIV mengakibatkan interaksi di antara keduanya. Penurunan jumlah CD4 oleh HIV berarti pula terjadi penurunan system kekebalan tubuh untuk mencegah berbagai infeksi lain, termasuk infeksi M. tuberculosis . Dibanding orang yang tidak terinfeksi HIV, ODHA mempunyai risiko sepuluh kali lebih besar menderita TB. Selain itu penyebaran ekstrapulmonal pada ODHA lebih sering daripada yang tidak terinfeksi HIV. Infeksi HIV tidak hanya meningkatkan risiko ko-infeksi TB, tetapi juga membuka peluang progresifnya TB laten. Potensi mengalami TB aktif pada pasien dengan HIV adalah 50% sedangkan pasien tanpa HIV hanya 5-10%, sedangkan risiko terjadinya reaktivasi infeksi TB adalah 2.5-15% setiap tahun pada penderita HIV dan 0.1% pada pasien tanpa HIV.1,10,23

Infeksi HIV ditandai dengan disfungsi dan penurunan progresif sel CD 4 sehingga aktivitas makrofag berkurang. Sel ini berperan penting dalam pertahanan antimycobacterial , oleh karena itu infeksi HIV akan menyebabkan pembentukan TB paru primer, reaktivasi TB laten dan penyebaran hematogen ekstrapulmoner. TB paru yang terjadi setelah infeksi HIV, dipercaya terutama sebagai akibat reaktivasi, walaupun dalam hal ini infeksi primer juga sangat mungkin terjadi.24

Sel CD4 menghasilkan sitokin interferon-y yang berperan penting memperantarai pertahanan imun manusia melawan infeksi MTB. Interferon-y mengaktivasi makrofag untuk menghambat pertumbuhan mycobacterial intrasel. Seseorang dengan kelainan genetik yang mengakibatkan penurunan produksi interferon-yakan menyebabkan penyakit yang berat dan fatal akibat infeksi mikobakteria TB. Infeksi HIV mengakibatkan penurunan selektif sel T, CD4 dan infeksi HIV yang progresif disertai penurunan kapasitas sel T untuk memproduksi interferon-γ, sehingga seseorang yang terinfeksi HIV memiliki risiko yang tinggi untuk menderita tuberkulosis baik secara primer maupun reaktivasi, serta reinfeksi lagi oleh kuman Tuberkulosis eksogen.25

 

Diagnosis

Penegakan Diagnosis Tuberkulosis pada Anak

            Karena sulitnya menegakkan diagnosis Tuberkulosis pada anak, banyak usaha membuat pedoman diagnosis dengan sistem skoring dan alur diagnostik sebagai berikut ini :26

Sistem Skoring Diagnosis Tuberkulosis Anak : 26

Parameter

0

1

2

3

 

Kontak TB

 

Tidak jelas

 

-

 

 

Laporan keluarga (BTA negatif atau tidak jelas)

 

BTA(+)

Uji Tuberkulin

 

Negatif

-

-

Positif (≥ 10 mm atau ≥ 5 mm pada keadaan imunosupresi)

Berat badan / Status Gizi

-

BB/TB < 90% , atau

BB/U < 80%

 

Klinis gizi buruk

atau BB/TB < 70%

atau BB/U < 60%

-

Demam tanpa sebab yang jelas

-

≥ 2 minggu

-

-

Batuk

-

≥ 3 minggu

-

-

Pembesaran kelenjar kolli, aksila, inguinal

-

≥ 1 cm, jumlah

> 1, tidak nyeri

-

-

Pembengkakan tulang / sendi panggul, lutut, falang

-

Ada pembengkakan

-

-

Foto Thoraks

 

Normal / kelainan tidak jelas

Gambaran sugestif TB

-

-

 

Catatan:

§         Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter

§         Jika dijumpai skrofuloderma, langsung didiagnosis tuberkulosis

§         Berat badan dinilai saat datang (moment opname)

§         Demam dan batuk tidak ada respon terhadap terapi sesuai baku

§         Foto rontgen thoraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak

§         Gambaran sugestif TB, berupa; pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat; konsolidasi segmental/lobar; kalsifikasi dengan infiltrat; atelektasis;tuberkuloma. Gambaran milier tidak dihitung dalam skor karena diperlakukan secara khusus.

§         Mengingat pentingnya peran uji tuberkulin dalam mendiagnosis TB anak, maka sebaiknya disediakan tuberkulin di tempat pelayanan  kesehatan.

§         Pada anak yang diberi imunisasi BCG, bila terjadi reaksi cepat BCG (≤ 7 hari) harus dievaluasi dengan sistim skoring TB anak, BCG bukan merupakan alat diagnostik.

§         Didiagnosis TB Anak ditegakkan bila jumlah skor ≥ 6,

(skor maksimal 14).

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penegakan Diagnosis HIV-AIDS berdasarkan 2 kriteria yaitu klinis dan imunologis.     b erdasarkan kriteria Klinis sebagai berikut : 27,29,30,31

Stadium

Gambaran Klinis

I

-          Asimtomatik

-          Limfadenopati generalisata yang persisten

 

II

-          Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan penyebab lain

-          Erupsi pruritik papuler

-          Infeksi virus wart luas

-          Angular cheilitis

-          Moluskum kantagiosum luas

-          Ulserasi oral berulang

-          Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan

-          Eritema gingival lineal

-          Herpes zoster

-          Infeksi saluran nafas atas kronik / berulang (otitis media,otorrhoea,sinusitis, tonsilitis)

-          Infeksi kuku oleh fungus

 

III

-          Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan(tidak respon dengan terapi standart)

-          Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan ( > 14 hari)

-          Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan( intermiten atau kontinu > 1 bulan)

-          Kandidosis oral persisten

-          Oral hairy leukoplakia

-          Periodontitis/ ginggivitis ulseratif nekrotikans akut

-          TB kelenjar, TB Paru

-          Pneumonia bakterial yang berat dan berulang

-          Pneumonitis interstitial limfoid simtomatik

-          Penyakit paru kronik yang berhubungan HIV (bronkiektasis)

-          Anemia yang tidak dapat dijelaskan < 8 g/dl, neutropenia ( < 500/mm3) atau trombositopenia ( < 50.000/mm3)

IV

-          malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berespon terhadap terapi standart

-          Pneumonia pneumocystis

-          Infeksi bakterial berat yang berulang( empiema, infeksi tulang sendi, meningitis, kecuali pneumonia)

-          Infeksi herpes simplek kronik(orolabial/ kutaneus > 1 bulan atau viseralis dilokasi manapun)

-          TB ekstrapulmonar

-          Sarkoma kaposi

-          Kandidiasis esofagus (trakea,bronkus,paru)

-          Toksoplasmosis SSP

-          Ensefalopati HIV

-          Infeksi sitomegalovirus(CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ lain, dengan onset umur > 1 bulan.

-          Kriptokokokis ekstrapulmonar termasuk meningitis

-          Mikosis endemik disseminata (histoplasmosis, coccidiomykosis

-          Kriptosporidiosis kronik dengan diare

-          Isosporiosis kronik

-          Infeksi mikobakteria non tuberkulosis diseminata

-          Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV simtomatik

-          Limfoma sel B non Hodgkin atau limfoma serebral

-          Progresif multifocal leukoencephalopathy

 

 

 

Berdasarkan Kriteria Imunologis :  28

Berdasarkan CD 4

 

Klasifikasi  WHO tentang imunodefisiensi HIV menggunakan CD 4

Imunodefisiensi

Nilai CD 4 menurut umur

< 11 bulan

(%)

12-35 bulan

(%)

36-59 bulan

(%)

> 5 tahun

(sel/mm 3 )

Tidak ada

> 35

> 30

> 25

> 500

Ringan

30-35

25-30

20-25

350-499

Sedang

25-30

20-25

15-20

200-349

Berat

< 25

< 20

< 15

<200 /  < 15 %

 

 

Berdasarkan Hitung Limfosit Total (Total Lymphocyt Count =TLC):28

 

Klasifikasi  WHO tentang imunodefisiensi HIV menggunakan TLC

Imunodefisiensi

Nilai TLC  menurut umur

< 11 bulan

(Sel/mm 3)

12-35 bulan

(sel/mm3)

36-59 bulan

(sel/mm3)

> 5 tahun

(sel/mm 3 )

TLC

< 4000

< 3000

< 2500

< 2000

CD 4

< 1500

< 750

< 350

Atau < 200

 

 

            Diagnosis definitif infeksi HIV pada bayi dan anak membutuhkan uji diagnostik yang memastikan adanya virus HIV. Uji antibodi HIV untuk mendeteksi adanya antibodi HIV yang diproduksi sebagai bagian respons imun terhadap infeksi HIV.  Pada anak usia ≥ 18 bulan, uji antibodi HIV dilakukan dengan cara yang sama seperti orang dewasa.27,30,31

 

  • Antibodi HIV maternal yang ditransfer secara pasif selama kehamilan, dapat terdeteksi sampai usia anak 18 bulan. Oleh karena itu interpretasi hasil positif uji antibodi HIV menjadi lebih sulit pada usia < 18 bulan.
  • Bayi yang terpajan HIV dan mempunyai hasil positif uji antibodi HIV pada usia 9-18 bulan dianggap berisiko tinggi mendapat infeksi HIV, namun diagnosis definitif menggunakan uji antibodi HHIV hanya dapat dilakukan saat usia 18 bulan.
  •   Untuk memastikan diagnosis HIV pada anak dengan usia < 18 bulan, dibutuhkan uji virologi HIV yang dapat memeriksa virus atau komponennya. Anak dengan hasil positif pada uji virologi HIV pada usia berapapun dikatakan terkena infeksi HIV.
  • Anak yang mendapat ASI akan terus berisiko terinfeksi HIV, sehingga infeksi HIV baru dapat disingkirkan bila pemeriksaan dilakukan setelah ASI dihentikan > 6 minggu.

 

Terdapat 2 cara untuk menyingkirkan diagnosis infeksi HIV pada bayi dan anak :27,30

  1. Uji virologi HIV negatif  pada anak dan bila pernah mendapat ASI, pemberiannya sudah dihentikan  > 6 minggu.

HIV-DNA atau HIV-RNA atau antigen p24  dapat dilakukan minimal usia 1 bulan, idealnya 6-8 minggu untuk menyingkirkan infeksi HIV selama persalinan. Infeksi dapat disingkirkan setelah penghentian ASI > 6 minggu.

  1. Uji antibodi HIV negatif pada usia 18 bulan dan ASI sudah dihentikan > 6 minggu.

Uji antibodi HIV (rapid test, ELISA) negatif saat usia 9 bulan dan ASI sudah dihentikan selama 6 minggu, dapat dikatakan tidak terinfeksi HIV.

Uji antibodi HIV dapat dikerjakan sedini-dininya usia 9-12 bulan karena 74% dan 96% bayi yang tidak terinfeksi HIV akan menunjukkan hasil antibodi negatif pada usia tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Bayi dan anak < 18 bulan dengan status HIV ibu tidak diketahui :27

 
 
 


         Anak < 18 bl, sakit berat, paparan HIV(-) dan gejala HIV(+)

 

              negatif                                                                          tidak

Uji Virologi HIV                                   ASI 6-8 mgg terakhir?                              HIV (-)

        

       
   
 


  positif

       

         HIV (+)                                         Prosedur ibu HIV(+)

                   

 

 


Prosedur penilaian tindak lanjut

& tata laksana diagnosis HIV

 

 

 

Keterangan :

Jika paparan HIV tidak pasti, lakukan pemeriksaan pada ibu terlebih dahulu sebelum uji virologi dan bila hasil dari ibu HIV (-) cari faktor risiko untuk transmisis HIV

Infeksi HIV dapat disingkirkan, bila ASI sudah dihentikan > 6 minggu

Uji Virologi HIV dapat digunakan untuk memastikan diagnosis HIV pada usia berapapun ( < 18 bulan membawa antibodi HIV maternal)

 

 

 

 

 

 

 

2.   Bayi dan anak < 18 bulan dengan status ibu HIV (+) dengan hasil Uji  Virologi (-) dan mandapat ASI  :27

       
   
 
 


Anak < 18 bl dgn Uji Virologi (-)                                                                      HIV (-)

& ASI (+)

       
   
 
 
 


                                                                                                                                  Tidak

     

                                                     Negatif                                                  Negatif

Periksa tanda & gejala HIV                              Uji antibodi HIV                       ASI ?

pada kunjungan                                      pd usia 9-12 bl           

            berikutnya

                                                                                                                                                    ya

positif                                                                        positif

 

           
   
 
     
 
 
 


Prosedur 3                            Uji antibodi HIV ulang                       Uji antibodi HIV

                                             saat usia > 18 bl & ASI sdh               ulang, saat ASI

                                             dihentikan saat > 6 mgg                     dihentikan pd usia

                                                                                                      > 6 mgg

 

 

 

Keterangan :

Uji antibodi HIV dapat digunakan untuk menyingkirkan infeksi HIV pada anak yang berusia 9-12 bulan.

Anak yang mendapat ASI akan terus berisiko terinfeksi HIV, sehingga infeksi HIV dapat disingkirkan bila ASI dihentikan > 6 minggu, oleh karena itu uji antibodi HIV konfirmasi perlu dilakukan saat usia 18 bulan.

 

 

 

 

 

 

3.   Bayi dan anak < 18 bulan dengan status ibu HIV (+) dengan hasil Uji  Virologi (-) dan terdapat gejala HIV  :27

 


Anak < 18 bl dgn Uji Virologi HIV(-)

dan tanda/gejala  HIV(+)

 

 
 
 

 


                                          

                                            Negatif                                  Tidak

                                                                                   

Uji Virologi HIV ulang                             ASI ?                              HIV (-)

     

       
   
 


         Positif                                                   Ya

 

       
   
 
 


HIV (+)                                          Uji Virologi HIV ulang,

                                                      setelah ASI dihentikan

                                                      > 6 minggu

 

 

 

 

Keterangan :

Anak yang mendapat ASI akan terus berisiko terinfeksi HIV, sehingga infeksi HIV dapat disingkirkan bila ASI dihentikan > 6 minggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.   Bayi dan anak ≥ 18 bulan :27

 

 


Anak ≥ 18 bulan dengan

paparan HIV atau sakit berat

 
 
 

 

 


                                                 Negatif                                                                    Tidak    

Uji Antibodi HIV                                        ASI (+) dalam 6 mgg                      HIV(-)

       
   
 
 
 

 

 


                          Positif

                                                                  Ulang Uji antibodi HIV

                                                                  Sth ASI dihentikan > 6 mgg

 

 

    

                                                                 Negatif

Konfirmasi uji antibodi HIV                        Lanjutkan sesuai pedoman uji HIV dewasa

 
 
 


                            

     Positif

   

                                                 Tidak

Tanda/gejala infeksi HIV                             Konfirmasi uji antibodi HIV

       
   
 
 
 

 


             Ya                                                                     (+)                                  (-)

 

 


HIV (+)                                   

                                                HIV (+)                                    Sesuai pedoman

                                                                                                uji HIV dewasa         

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

PENGOBATAN TUBERKULOSIS dan INFEKSI HIV/AIDS

 

Pada dasarnya pengobatan sama dengan pengobatan Tuberkulosis tanpa HIV seperti yang dianjurkan oleh WHO. Pemberian terapi selama 6 bulan memberikan angka kekambuhan dalam batas yang masih bisa diterima yaitu sekitar 3-5% setelah dilakukan follow-up 18 sampai 22 bulan. Pedoman yang baru menganjurkan terapi diperpanjang jika respons pengobatan sub optimal, dengan pengobatan 2 bulan (fase intensif) dan dilanjutkan pengobatan 6-9 bulan (fase lanjutan).26,27,30

Rifampisin mempunyai efek interaksi dengan obat antiretrovirus. Tuberkulosis paru biasanya memberikan respons terapi yang baik terhadap obat­-obatan standar, namun penderita HIV positif mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kematian selama dalam pengobatan dibandingkan dengan pasien yang seronegatif. Hal ini ternyata lebih disebabkan oleh infeksi oportunisik lain.26,27,30

I.    PENGOBATAN TUBERKULOSIS PADA ANAK

Tabel 1.Obat Antituberkulosis yang Biasa Dipakai dan Dosisnya26,27,30

Obat

Dosis harian

(mg/kgBB/hr)

Dosis maksimal

(mg per hari )

Efek samping

Isoniazid

5-15

 

300

Hepatitis, neuritis, perifer, hipersensitifitas

Rifampisin

10-20

600

Gastrointestinal, reaksi kulit, hepatitis, trombositopenia, peningkatan enzim hati

Pirazinamid

15-30

2000

Toksisitas hati, artralgia, gastrointestinal

Etambutol

15-20

1250

Neuritis optik, ketajaman mata kurang, buta warna merah-hijau, penyempitan lapang pandang, hipersensitivitas, gastrointestinal

Streptomisin

15-40

1000

Ototoksik, nefrotoksik

 

Keterangan :

R=Rifampisin,            H=lsoniazid,           S = Streptomisin

Z=Pirazinamid,          E =Etambutol,

Tabel 2.

Rekomendasi rejimen pengobatan untuk anak pada setiap diagnosis kategori kasus dengan Tuberkulosis:27

Diagnosis

Kategori TB

Kasus TB

Rejimen

Fase Intensif

setiap hari/3X/mgg

Fase Lanjutan

setiap hari/3X/mgg

III

-TB Pulmonal apusan -

-TB Ekstrapulmonal ringan

2HRZ

4HR atau 6HE

I

-TB Pulmonal apusan +

-TB Pulmonal apusan –

-TB dengan keterlibatan parenkim paru luas

-TB Ekstrapulmonal berat

-Penyakit penyerta HIV

2HRZE

4HR atau 6HE

I

Meningitis TB

2RHZS

10RH

II

TB Pulmonal apusan +

-      Relaps

-      Terapi setelah putus obat

-      Kegagalan terapi

-          

2HRZES/1HRZE

5HRE

IV

Kronik dan MDR-TB

Rejimen dirancang per individu

 

Keterangan :

R=Rifampisin,            H=lsoniazid,

Z=Pirazinamid,          E=Etambutol,

S=Streptomisin,         MDR =Multidrug-resistant

 

 

 

II.    PENGOBATAN HIV-AIDS PADA ANAK

Pengobatan ARV pada anak: 30,31

         Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan adanya infeksi HIV pada bayi usia < 18 bulan adalah sulit, oleh karena adanya, antibodi ibu yang diturunkan ke anak. Untuk menegakkan diagnosis pasti adanya. infeksi HIV pada kelompok umur ini diperlukan pemeriksaan virologis. Oleh karena. itu pernberian ART pada anak terbagi dalam kategori umur dan ketersediaan sarana pemeriksaan CD 4 maka dianjurkan lebih baik menggunakan persentase CD4 (terhadap TLC) dalam memutuskan pemberian obat ARV.

Penilaian klinis terhadap pengobatan ARV adalah adanya kemajuan tumbuh kembang yang pernah mengalami gangguan, perbaikan gejala neurologi, keterlambatan perkembangan mental atau ensefalopati dan menurunnya frekuensi penyakit infeksi lainnya. 30,31

ART dimulai pada keadaan sebagai berikut: 30,31

Bagi bayi yang berumur < 18 bulan dengan HIV

(seropositif terbukti secara PCR HIV DNA, atau HIV RNA, p 24) :

-                Penyakit HIV stadium III (AIDS klinis),tanpa memandang CD 4

-                Penyakit HIV stadium II, CD 4 < 20 % atau

-        Penyakit HIV stadium I (asimtomatik) , CD 4 < 20 %. Pasien   asimtornatik hanya diterapi bila ada perneriksaan CD 4.

-        Jika tidak ada pemeriksaan virologi, maka ART dimulai pada

Penyakit HIV Stadium II atau III dengan CD 4 < 20 %.

-                Pada kasus seperti tersebut, maka pada umur 18 bulan perneriksaan

antibodi harus diulang untuk memastikan bahwa anak tersebut benar

terinfeksi HIV, ART hanya pada anak terkonfirmasi infeksi saja.

Bagi bayi yang berumur > 18 bulan dengan HIV :

-          Penyakit HIV Stadium III (AIDS klinis) tanpa memandang persentase CD 4; atau

-          Penyakit HIV Stadium II dgn. didukung perneriksaan CD 4 < 15 %; atau

-          Penyakit HIV Stadium I (asimtomatik) dengan. CD 4 < 15%

Rejimen ARV lini‑pertama yang direkomendasikan untuk bayi dan anak .

Dosis obat harus disesuaikan, seiring dengan pertumbuhan anak, untuk menghindari dosis yang kurang hingga muncul resistensi; penentuan dosis pada anak didasarkan atas luas permukaan tubuh anak atau berat badan.

Pilihan terapi lini pertama untuk pasien anak adalah : 27,30,31

2 NRTI + 1 NNRTI = 2 NRTI baru + 1 PI

Langkah 1 : Pilih 2 NRRTI

NRTI Lini Pertama

NRTI Lini Kedua

AZT atau d4T + 3 TC

ddI + ABC

ABC + 3TC

ddI + AZT

 

Langkah 2 : Pilih 1 PI

PI pilihan :      Lopinavir / rinonavir LPV / r

                        Saquinavir / Ritonavir SQV /r

PI alternatif :   NFV

 

Untuk anak < 3 tahun tidak diperbolehkan menggunakan EVF oleh karena kurang sesuainya formulasi dan informasi dosisnya.(masih dalam penelitian). Sehingga untuk anak < 10 kg pilihan NNRTI jatuh pada NVP.

Pilihan NNRTl untuk anak yang butuh ART tetapi juga perlu atau sedang mendapat Obat Anti TB vang mengandung rifampisin jatuh pada EVF.27,30,31

 

Rekomendasi ART lini ‑kedua untuk bayi dan anak.

Terapi lini‑kedua sebagai pengganti rejimen lini‑pertarna untuk anak yang mengalami kegagalan. Terapi adalah mengganti komponen. nukleosida, sesuai dengan prinsip yang sama dengan yang diterapkan pada ODHA dewasa

 

 

 

 

Rejimen Lini Kedua bila Lini Pertama

3 NRTI = 1 NRTI + NNRTI + 1 PI

Rejimen Lini Pertama

Rejimen Lini Kedua

AZT atau d4T + 3 TC + ABC

ddI + EFV atau NVP + 1 PI ( paling baik LPV/r atau SQV/r.Alternatif lain NFV)

 

 

  • Lini Pertama bila anak sudah mendapat OAT :27,31

Rejimen terpilih

Rejimen alternatif

2NRTI + EFV (≥ 3 tahun)

AZT atau d4T+3TC+ABC

2NRTI + NVP

Sesudah terapi TB selesai alihkan 2NRTI + NVP atau EFV

Lanjutkan rejimen sesudah terapi TB selesai

 

 

¨      Jika akan memulai terapi TB yang sudah mendapat ART

Rejimen yang dipakai saat ini

Rejimen yang terpilih/alternattif

2NRTI +ABC

Teruskan

2NRTI + EFV

Teruskan

2NRTI + NVP

Ganti ke 2NRTI + ABC atau 2NRTI + EFV (> 3 tahun & berat > 10 kg)

 

 

 

 

 

 

 

Obat Antiretroviral (ARV) :

NRTI

(Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor)

 

 

NNRTI

(Non-Nucleoside reverse Transcriptase Inhibitor)

PI

(Protease Inhibitor)

Abacavir ( ABC)

Zidovudine (AZT)

Didanosine (ddI)

Emtricitabine (FTC)

Lamivudine (3TC)

Stavudine (d4T)

Duviral (AZT+3TC)

 

Efavirenz (EFV)

Nevirapin (NVP)            

 

Atazanarenz (EFV)

Indinavir (IDV)

Lopinavir/Ritonavir (LPV/r),kapsul

Nelfinavir (NFV)

Ritonavir (RTV)

Saquinavir (SQV)

 

Dosis Obat Antiretroviral (ARV)  :

  • Komposisi Obat Duviral : Zidovudin(300mg) dan Lamivudin(150 mg)
  • Komposis obat Triviral : Zidovudine (300mg), Lamivudine (150mg) dan Nevirapine (200 mg)
  • Dosis Zidovudine / AZT :
    • 90-180 mg/m2 dibagi 3 dosis
    • Neonatal : 2 mg/kgBB/x ( 4 x/hari)
    • Anak : 5 mg/kgBB/x ( 3 x/hari)
  • Dosis Lamivudine / 3 TC :
    • Neonatal : 2 mg/kgBB/x ( 2x/hari)
    • Anak : 4 mg/kgBB/x ( 2 x/hari)
  • Dosis Evafirenz (EFV) (200 mg/tab) :
    • 10-15 kgBB : 200 mg (1 x/hari)
    • 15-20 kgBB : 250 mg ( 1 x/hari)
  • Dosis Nevirapine (NVP) :
    • 120 mg/m2/hari
    • 20/30 mg – 45 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis. 30,31

BAB VIII

PENCEGAHAN dan DETEKSI DINI

INFEKSI TB-HIV/AIDS

 

Pencegahan penularan HIV terutama menitik­beratkan pada penyebaran inforrnasi dan pendidikan kesehatan masyarakat. Laboratorium yang ada dapat memeriksa uji serologik untuk mendeteksi infeksi HIV sangat diharapkan yang diikuti oleh konseling pra dan pasca tes. Mengingat angka infeksi tuberkulosis yang tinggi di Indonesia pengobatan pencegahan dengan Isoniazid (INH) perlu diberikan pada setiap penderita HIV/AIDS. Vaksinasi BCG tidak dianjurkan pada penderita seropositif HIV, karena selain tidak memberi efek protektif juga dapat terjadi penyebaran BCG.32

Pemberian INH merupakan terapi pencegahan yang efektif untuk menurunkan insidens tuberkulosis aktif pada penderita infeksi HIV dan Tuberkulosis laten.26,33 Pengobatan pencegahan INH sebaiknya diberikan seumur hidup terutama pada bekas penderita TB dan juga pernah terkena infeksi. Di negara dengan kejadian TB rendah kemoprofilaksis menjadi sangat penting terutama pada kelompok pengguna obat bius, tuna wisma, orang dengan kompetensi imun rendah dan orang terpenjara terutama di tempat-tempat dengan kejadian HIV tinggi dan penderita HIV yang mempunyai risiko tinggi kena penyakit TB. Obat yang digunakan adalah INH dosis (5 mg/kgBB/hr) selama 6-9 bulan.33   Pencegahan PCP sudah di Rekomendasi oleh WHO/UNAIDS: Kotrimoksazol (< 6 bln:2,5 ml, 6 bl-5 th:5 ml, 6-14 th:10 ml dalam 2 dosis) mulai 4-6 minggu, target 3 kali/minggu.Dihentikan setelah risiko transmisi hilang HIV (-) dan infeksi HIV disingkirkan.27,31

Untuk pencegahan penularan dari ibu hamil yang positif ke bayi di kandungan, dapat diberikan obat antiretrovirus (AZT/AZT+NZT/NVP) yang akan diberikan pada bayi mulai usia 3 hari/ setelah 1 minggu.25,27 Strategi pencegahan penularan HIV di saat ibu hamil telah terinfeksi HIV ini merupakan inti dari intervensi pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi maka dilaksanakan program PMTCT (Prevention of Maternal to Child Transmission / program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya).

Bentuk-bentuk intervensi tersebut adalah :34

1.         Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif

2.         Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela

3.         Pemberian obat antiretroviral

4.         Konseling tentang HIV & makanan bayi; serta pemberian makanan bayi;

5.         Persalinan yang aman.

Di Indonesia sendiri pendekatan agama bagi sebagian besar masyarakat merupakan pendekatan yang penting, karena dengan mengingatkan ajaran agama dan nilai-nilai budaya diharapkan perilaku hubungan seks yang berisiko dapat dikurangi begitu juga dengan penggunaan narkotika. Pendekatan agama & kesehatan sebaiknya dijalankan saling melengkapi, sehingga upaya pencegahan penularan dapat dilakukan secara Iebih menyeluruh.25

      Program penapisan dan terapi pencegahan adalah penting untuk orang dalam kelompok risiko tinggi. Berdasarkan data CDC, the Advisory Council for Elimination of Tuberculosis, merekomendasikan untuk Tuberkulosis :35

1.      Kontak dekat dengan orang yang diketahui atau dicurigai Tuberkulosis.

2.      Orang terinfeksi HIV.

3.      Pengguna obat suntik atau obat berbahaya lain (seperti kokain).

4.      Mempunyai faktor risiko kesehatan yang dapat meningkatkan risiko penyakit bila terjadi infeksi seperti DM, terapi kortikosteroid dosis tinggi dan jangka panjang, terapi imunosupresif lain termasuk transplantasi, gagal ginjal kronik, gangguan hematologi (leukemia, Iimfoma), keganasan, gastrektomi, jejunoileal by-pass.

5.      Pekerja di lokasi risiko tirggi (di lembaga pemasyarakatan, lokasi tunawisma).

6.      Pekerja kesehatan yang melayani pasien risiko tinggi.

7.      Orang asing termasuk anak-anak yang datang dari negara dengan insidens atau prevalens tuberkulosis tinggi.

8.      Pengobatan kurang memadai, populasi dengan penghasilan rendah.

9.      Ras atau etnik risiko tinggi.

10.  Infant, anak-anak atau dewasa muda yang terpajang dengan dewasa dalam kategori risiko tinggi.

 

BAB IX

STRATEGI NASIONAL PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS

2007-2010

 

1.      TUJUAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS :36

a.      Tujuan Umum penanggulangan HIV dan AIDS

·        Mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup

ODHA serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat.

b.      Tujuan Khusus Penanggulangan HIV dan AIDS

·        Menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan menciptakan suasana kondusif untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan AIDS, dengan menitikberatkan pencegahan pada sub-populasi berperilaku resiko tinggi dan lingkungannya dengan tetap memperhatikan sub-populasi lainnya.

·        Menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan, pengobatan, dan dukungan kepada ODHA yang terintegrasi dengan upaya pencegahan.

·        Meningkatkan peran serta remaja, perempuan, keluarga dan masyarakat umum termasuk ODHA dalam berbagai upaya penanggulangan HIV dan AIDS.

·        Mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara lembaga pemerintah, LSM, sektor swasta dan dunia usaha, organisasi profesi, dan mitra internasional di pusat dan di daerah untuk meningkatkan respons nasional terhadap HIV dan AIDS.

·        Meningkatkan koordinasi kebijakan nasional dan daerah serta inisiatif dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

 

 

 

 

 

2.      DASAR KEBIJAKAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS :36

Penularan dan penyebaran HIV dan AIDS sangat berhubungan dengan perilaku beresiko, oleh karena itu penanggulangan harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tersebut. Bahwa kasus HIV dan AIDS diidap sebagian besar oleh kelompok perilaku resiko tinggi yang merupakan kelompok yang dimarginalkan, maka program-program pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan pertimbangan keagamaan, adat-istiadat dan norma-norma masyarakat yang berlaku disamping pertimbangan kesehatan. Perlu adanya program-program pencegahan HIV dan AIDS yang efektif dan memiliki jangkauan layanan yang semakin luas dan program-program pengobatan, perawatan dan dukungan yang komprehensif bagi ODHA maupun OHIDA untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Dengan latar belakang pemikiran tersebut, maka kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia disusun sebagai berikut:

  1. Draft final 040107 15

a.    Upaya penanggulangan HIV dan AIDS harus memperhatikan nilai-nilai agama dan budaya / norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk mempertahankan dan memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga;

b.   Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah, dan LSM berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranya upaya penanggulangan HIV dan AIDS;

c.    Upaya penanggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIV dan AIDS sudah menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah nasional dan penanggulangannya melalui “Gerakan Nasional Penanggulangan HIV and AIDS”;

d.   Upaya penanggulangan HIV and AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marginal terhadap penularan HIV and AIDS;

e.    Upaya penanggulangan HIV and AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender; 2.6. Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan masyarakat umum diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi guna mendorong kehidupan yang lebih sehat;

f.     Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai penularan HIV;

g.    Upaya mengurangi infeksi HIV pada pengguna napza suntik melalui kegiatan pengurangan dampak buruk (harm reduction ) dilaksanakan secara komprehensif dengan juga mengupayakan penyembuhan dari ketergantungan pada napza.

h.    Upaya penanggulangan HIV and AIDS merupakan upaya-upaya terpadu dari peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan data dan fakta ilmiah serta dukungan terhadap ODHA.

i.      Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV and AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent). Konseling yang memadai harus diberikan sebelum dan sesudah pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan diberitahukan kepada yang bersangkutan tetapi wajib dirahasiakan kepada fihak lain.

j.     Diusahakan agar peraturan perundang-undangan harus mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan HIV and AIDS disemua tingkat.

  1. Draft final 040107 16

Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada ODHA dan OHIDA.

 

3.      STRATEGI :36

Untuk mencapai tujuan STRANAS 2007-2010, ditetapkan strategi sebagai berikut:

a.      Meningkatkan dan memperluas upaya pencegahan yang nyata efektif dan menguji coba cara-cara baru;

b.      Meningkatkan dan memperkuat sistem pelayanan kesehatan dasar dan rujukan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah ODHA yang memerlukan akses perawatan dan pengobatan;

c.      Meningkatkan kemampuan dan memberdayakan mereka yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di pusat dan di daerah melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan;

d.      Meningkatkan survei dan penelitian untuk memperoleh data bagi pengembangan program penanggulangan HIV dan AIDS;

e.      Memberdayakan individu, keluarga dan komunitas dalam pencegahan HIV di lingkungannya;

f.        Meningkatkan kapasitas nasional untuk menyelenggarakan monitoring dan evaluasi penanggulangan HIV dan AIDS;

g.      Memobilisasi sumberdaya dan mengharmonisasikan pemamfaatannya di semua tingkat.

4. AREA PRIORITAS penanggulangan HIV dan AIDS pada tahun 2007-2010 adalah sebagai berikut :36

1. Pencegahan HIV dan AIDS;

2. Perawatan, Pengobatan dan Dukungan kepada ODHA;

3. Surveilans HIV dan AIDS serta Infeksi Menular Seksual;

4. Penelitian dan riset operasional;

5. Lingkungan Kondusif;

6. Koordinasi dan harmonisasi multipihak;

7. Kesinambungan penanggulangan


BAB X

RINGKASAN

 

            Tuberkulosis merupakan penyakit yang sudah sangat lama dikenal manusia. Sampai dengan sekarang pemahaman para ilmuwan telah berkembang sedemikian maju, dengan pendekatan tuberkulosis ditinjau dari segala disiplin ilmu yang terkait. Mulai dari patogenesis, diagnosis dan terapi telah dicapai penelitian dengan hasil yang memuaskan.

            Namun demikian ternyata penyakit ini meski pada awalnya dapat ditekan, ternyata mulai tahun 1980an mulai muncul kembali ke permukaan, dengan semakin meningkatnya morbiditas maupun mortalitas, serta penyebarannya yang mencakup hampir seluruh dunia.

Penyakit infeksi lain yaitu HIV/AIDS merupakan penyakit yang baru dikenal baik sekitar tahun 1980an ternyata terbukti saling mempengaruhi semakin meningkatnya morbiditas dan mortalitas tuberkulosis. Upaya intensif terus dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini sampai dengan sekarang.

Epidemi Tuberkulosis tetap menjadi masalah dunia termasuk Indonesia, karena telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia atau sekitar 2 juta orang dengan 8 juta kasus baru dan 2-3 juta kematian setiap tahun. Antara tahun 1990-2005, insiden TB meningkat dengan percepatan sekitar 7% pada negara-negara dengan prevalensi HIV yang tinggi dan 1,3% pada negara-negara dengan prevalensi HIV yang rendah. Jumlah yang sedemikian banyak ini membuat Tuberkulosis menjadi sulit diobati, sehingga WHO telah mencanangkan sejak tahun 1993 bahwa penyakit ini telah menjadi global emergency Infeksi HIV/AIDS lebih memperburuk lagi situasi tuberkulosis terutama di negara berkembang karena saling berpengaruh pada proses perburukan penyakit serta tinggi angka kematiannya, khususnya negara dengan prevalensi HIV tinggi. Tuberkulosis pada penderita HIV memiliki perbedaan dibandingkan dengan non-HIV. Masalah klinis karena keterlambatan diagnosis dapat berakibat meningkatnya angka kematian dan angka resistensi.

Untuk mengatasi hal ini dilakukan berbagai upaya untuk kembali menekan morbiditas serta mortalitas penyakit ini. Para ahli memperkirakan permasalahan yang timbul ini akibat dari masalah diagnosis, pengobatan, pencegahan , serta penanggulangan tuberkulosis pada infeksi HIV kurang maksimal.

Penegakan diagnosis yang kurang tepat dapat berakibat under diagnosis maupun over diagnosis, yang keduanya mempunyai dampak yang tidak baik. Penegakan diagnosis perlu dipahami betul oleh para tenaga medis baik di tingkat perifer sampai rujukan. Diagnosis ini meliputi pengenalan tanda dan gejala sampai dengan upaya mendapatkan diagnosis pasti. Sistem skoring perlu disosialisasikan sebagai upaya skrining awal untuk dilakukan pemeriksaan lanjut baik di tingkat perifer maupun rujukan. Kendala biaya merupakan penghambat, walaupun ditemukan sarana diagnosis yang praktis serta akurat tetapi biaya operasionalnya tinggi.

Pengobatan Tuberkulosis disertai infeksi HIV dengan obat­-obat standar masih memberikan respons yang baik, namun demikian perlu diberikan paduan yang terbaik dengan lama pengobatan sama atau bahkan lebih baik jika lebih lama. Upaya pencegahan perlu dilakukan dan ditingkatkan pada kelompok risiko tinggi dengan cara memberikan penyuluhan, pendidikan kesehatan masyarakat dan pemberian kemoprofilaksis. Pencegahan HIV di Indonesia sebaiknya dilakukan juga melalui pendekatan agama yang saling melengkapi dengan pendekatan kesehatan sehingga pencegahan penularan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Meskipun terapi antituberkulosis yang poten sudah ditemukan sejak lama, tetapi lamanya pemberian serta banyaknya kombinasi obat merupakan kendala tersendiri dimana pasien merasa bosan atau putus asa. Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular, sehingga upaya pencegahan pada individu di sekitar penderita tuberkulosis perlu mendapat perhatian yang tinggi untuk mencegah morbiditas.

 

           


DAFTAR   PUSTAKA

 

1.      Prosedur Tetap Pencegahan Dan Pengobatan Tuberkulosis Pada Orang Dengan

HIV/AIDS.Kelompok Kerja TB-HIV Tingkat Pusat.Depkes RI. 2003.

2.   Pedoman Tatalaksana Klinis Infeksi HIV di Sarana Pelayanan Kesehatan.

Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. 2001.

3.  Kebijakan Nasional Kolaborasi TB-HIV di Indonesia. Kolaborasi Subdit TB

      dengan Subdit AIDS & PMS Ditjen PP & PL, Depkes RI. 2008.

4.   Corbett El, Marston B, Churchyard GJ, De Cock KM. Tuberculosis in sub-

      Saharan Africa: opportunities, challenges, and change in the era of antiretroviral

      treatment. Lancedt 2006; 367:926-37.

5.   WHO. TB/HIV. Guidelines for Implementing Collaborative TB and HIV

      Programme Activities. Departement of HIV/AIDS WHO, 2003.

6.   Reksodiputro A H. Tuberkulosuis pada penderita seropositif HIV. Dalam :

         Tjokronegoro A, Djoerban Z, Matondang CS (Ed), Seluk Beluk AIDS Yang

      Perlu Anda Ketahui. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 1992.h.75-77.

7.      Soepandi P Z. TB Management in HIV patients. In : Widjaya T, Benyamin YT, Sanourno E (ED). The National Symposium : Up Date on Tuberculosis and Respiratory Disorders. Bleslink Rema. Bandung 2007.h.65-70.

8.      Maher D, Floyd K. A Strategic Framework for HIV-related TB. Int J Tuberc Lung Dis 2002; 6(10): S8-10.

9.      Anderson SR. Interaction between TB and HIV/ AIDS. Abstract Book, 33rd

      World Conference on Lung Health of the IUAT LD, Montreal Canada, 6-10 October 2002.p.16.

10. World Health Organization (WHO). Global Tuberculosis Control  Surveillance,

      planning, financing: WHO Report 2006. WHO/HTM/TB/2006.362. Genewa:

      WHO, 2006.

11. Tjandra Yoga Aditama. 'Tuberkulosis Diagnosis, Terapi dan Masalahnya.

      Jakarta :YP IDI, edisi IV, 2002.hal.32-5.

 

12. Lewthwaite P, Wilkins E. Natural History of HIV/AIDS. Medical Progress.

      2007.p. 19-24.

13. Iseman MD, Tuberculosis in relation to Human Immunodeficiency Virus and

      Acquired Immunodeficiency Syndrome. In A Clinician Guide to tuberculosis,

      Lippincott William and Wilkins, 2000.

14. Corrbett, Watt, Walker, Williams, Raviglione, Dye. Growing Burden of

      Tuberculosis. Global Trends and Interactions with The HIV Epidemic. Arch

      Intern, Med, 2003;163:1009-1021.

15. Segreti J, Pulmonary Complications of HIV Disease, In : Current Diagnosis and

Treatment in Pulmonary Medicine. Eds. Hanley Me & Welsh CH, New York, Lange Med. Books/McGraw Hill, 2003.p. 415 – 423.

16. Djoerban Z. HIV/AIDS di Indonesia : Masa Kini dan Masa Depan. Pidato Guru

      Besar Tetap di Bag. Penyakit Dalam FKUI, 2003.

17.  Djauzi S & Rachmadi K, Self Reliance on The Move : Based on Experience of

      The Working Group on HIV/AIDS of Indonesia University, The Indonesian

      Perspective Group, 2004.

18.  Aditama TY. Tuberkulosis : Diagnosis, Terapi dan Masalahnya, Ed IV, Jakarta,

      Yayasan Penerbit IDI, 2002.

19.  Widodo, E. Tuberkulosis Pada Anak : Diagnosis dan Tata Laksana. Dalam

      Pediatrics Update 2003. IDAI Cabang Jakarta, 2003.h. 67-76.

20.  Brudnet K, Dobkin J. Resurgent tuberculosis in New York City. Am Rev Respir Dis 1991; 144:745-9.

21.  Small PM, Hopewell PC, Signh SP, Paz A, Personnet J, Ruston DC, at al. The epidemiologi of tuberculosis in San Francisco. N Engl J Med 1994; 330:1703-9.

22.  Price NM, Johnson MA. Pulmonary tuberculosis in HIV infection. In; Semple SJG, Miller RF, editors AIDS and the lung. 1 st ed. London: Blackwell Science, 1997.p.166-81.

23. Nasronudin. Dasar Virologi dan Infeksi HIV. Dalam Nasronudin. HIV & AIDS Pendekatan Biologi Molekuler, klinis, dan sosial. Airlangga University Press.2007.h.1-10.

24.  Daley CL. Small PM, Schecter GF, Schoolnik GK, McAdam RA, Jacobs WR Jr,

et al An. outbreak of tuberculosis with accelerated progression among persons infected with human immunodeficiency virus: an analysis using restriction fragment length poly­morphisms. N Engl J-Med 1992;362:231-5.

25.  Barnes PF, Lakely DL, BurnanWJ. Tuberculosis in patients with HIV infection.

      Infect Dis Clin of North Am 2002;16:501-6.

26.  Nastiti N Rahajoe, Darfioes Basir, Makmuri MS, Cissy B Kartasasmita, Pedoman

      Nasional Tuberkulosis Anak Edisi-2, UKK Pulmonologi PP IDAI, April 2007.

27.  WHO, Depkes. Pedoman Tata Laksana Infeksi HIV dan Terapi

      Antiretroviral Pada Anak Di Indonesia .Jakarta 2008.h. 3-63.

28. Institut de Santé Publique, Epidémiologie et Développement (ISPED) Université Victor Segalen – Bordeaux 2, Children and HIV/AIDS From research to policy and action Literature review October 2006.

29.WHO Regional Office for South East Asia (WHO-SEARO)  dan the United Nations   Children’s Fund Regional Office for South Asia (UNICEF ROSA),  Management of HIV infection and anti retroviral therapy in infant and children. 2006.

30. Fayorsey.R. MD. The International Care and Treatment Program (ICAP).

      Columbia University Mailman School Public of Health. Pediatric HIV/ AIDS

      Care and Treatment Guide Pocked 2006.

      www.who.int /hiv/paediatric/en/ index.html.

31.  WHO, Depkes 2006.Pedoman Tatalaksana Infeksi HIV pada anak dan terapi antiretroviral di Indonesia.Jakarta 2006.h.1-31.

32.  Depkes RI . Direktorat jenderal pemberantasan penyakit menular. Pedoman Nasional perawatan, dukungan dan pengobatan AIDS.Jakarta, 2002.

33.    Jones BE, Ryu R, Yang Z, Cave MD, Pogoda JM, Otaya M, et al. Chest radiographic findings inpatients with tuberculosis with recent or remote infection. Am J Respir Crit Care Med 1997;155:1270-3.

34.  Depkes.Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari ibu ke bayi. Jakarta, 2006.

35.    Nunn PP, Elliot AM, McAdam KPWJ. Impact of human immunodeficiency virus on tuberculosis in developing countries.Thorax 1994;49:511-8.

36.  Pedoman Nasional Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan HIV dan AIDS, Depkes, 2006.h.16-34.

 

 

 

 

 

Sat, 4 Jul 2009 @19:45


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+1+6

WELCOME
image

Dwi Purnomo Sidhi

0811324110


Jl. Raya Randegan-Tanggulangin - Sidoarjo
Email:purnomo_sidhi@ymail.com
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Copyright © 2014 purnomosidhi.com · All Rights Reserved